Memperbincangkan Pejambon 1945: Tionghoa Peranakan dalam Sejarah Pendirian Indonesia

Duo penulis sejarawan dan pemerhati sejarah, RM Daradjadi dan Osa Kurniawan Ilham, melahirkan karya sebuah buku “Pejambon 1945: Konsensus Agung Para Pendiri Bangsa”. Pada 22 Maret 2019, Perpustakaan Universitas Kristen Petra mengadakan kegiatan bedah buku tersebut dengan mengambil tajuk “Bincang Buku Jejak Tionghoa Peranakan Pendiri Indonesia”. Center for Chinese Indonesian Studies (CCIS) Universitas Kristen Petra pun turut mendukung penyelenggaraan bedah buku di Ruang Teater Perpustakaan lantai 5.

Siang itu, Osa Kurniawan Ilham hadir sebagai narasumber penulis buku. Pria yang akrab disapa dengan Osa itu, mengawali pemaparannya dengan materi siapa yang seharusnya disebut sebagai manusia Indonesia.Tak sekadar memaparkan sejarah Tionghoa Peranakan, Osa memberikan fakta-fakta yang ada dalam buku karyanya namun tak banyak diketahui orang. “Saya sendiri terheran-heran dengan fakta tentang orang-orang Tionghoa yang saya temukan saat menulis buku Pejambon 1945 ini. Sejarah yang saya tahu dari kecil, ternyata menyimpan banyak hal yang belum diungkap”. Keinginan untuk mengungkapkan fakta inilah yang mendorong pria kelahiran Kediri terus menulis buku tentang sejarah Indonesia.

Baginya, bicara tentang topik Tionghoa Peranakan pasti akan bersinggungan dengan sejarah legalitas keberadaanya di bumi Indonesia.

Buku Pejambon 1945 sendiri mengambil fokus seputar perjuangan mencapai kata sepakat para pendiri bangsa yang diambil dari notulen BPUPK (28 Mei – 16 Juli 1945) dan PPKI (18 – 22 Agustus 1945). Osa dan Daradjadi juga memunculkan diskusi sengit tentang Piagam Jakarta dan rancangan sila pertama Pancasila. Topik ini juga mendapat respon pertanyaan menarik dari salah satu peserta yang hadir saat sesi tanya jawab berlangsung. Yordan Batara-Goa selaku narasumber kedua sekaligus penanggap, kemudian menengahi dengan penjelasan kita harus membuka wawasan karena memang ada berbagai versi sejarah. Itu tak perlu diperdebatkan kebenarannya karena terjadi di masa lalu, apalagi sumber tertulisnya sulit didapatkan.

Kegiatan bedah buku buku Pejambon 1945 terbuka untuk umum. Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari kalangan dosen atau akademisi Universitas Kristen Petra. “Saya bangga kegiatan ini turut dihadiri peserta dari luar kampus Petra meski persiapannya singkat,” sambut Dian Wulandari, Kepala Perpustakaan Universitas Kristen Petra Surabaya saat membuka kegiatan bedah buku. Usai sesi tanya jawab, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi penandatanganan buku oleh Osa selaku penulis.

Ad Square

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *