Aku jelas tak tahu cara memulai tulisan ini.
Andai saja tanganku bisa mengekspresikan isi hatiku.

Dalam kesendirian dan kekhawatiran.
Aku menghibur diriku dan menyeka air mataku seorang diri.
Ketakutan yang tak bisa aku jelaskan.

Aku menghabiskan waktu untuk berdamai denganmu.
Aku berterima kasih kepadamu atas diriku sekarang.

Sekilas kalimat ini akan membawa pembaca berpikir bahwa ini adalah ungkapan kegelisahan atau ekspresi dari tokoh utama, Vidya Salu Tagari, perempuan Toraja yang dibesarkan oleh timang adat istiadat leluhurnya. Tumbuh menjadi manusia dalam kumparan kontestasi dan benturan-benturan kultur yang mengurat nadi dalam dirinya, versus pesatnya modernisasi.

Tapi sebenarnya, dalam buku berjudul Rapa’ Karsa, penulis ingin mengajak pembaca merefleksikan pluralitas melalui tokoh-tokoh yang muncul dalam rangkaian cerita. Melalui bab demi bab, dalam perjalanan proses pendewasaan diri Vidya, dia dipertemukan dengan berbagai macam karakter manusia dari berbagai macam latar belakang budaya.

Sosok Mama yang hadir, Maria Langi’, dapat menjadi komunikasi lintas budaya, bagaimana kehidupan perempuan Toraja di jaman dulu, dan saat ini. Representasi rasa juga digambarkan melalui puisi dan ilustrasi, kolaborasi bersama : Eva Agustin (Puisi au delà de mon rêve), Octavia Tungary (Ilustrasi au delà de mon rêve), dan Rafika Sulistiya (Ilustrasi Brioche Camembert & Deppa Tori’). Mengajak pembaca untuk menyelami apa yang dirasakan oleh Vidya Salu Tagari. Kisah keluarga, cinta, masa depan, menjadi warna-warni kisah dalam satu rangkaian cerita.

Dalam bahasa Toraja, kata Rapa’ berarti “tenang”. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Karsa berarti “daya; kekuatan; jiwa yang mendorong makhluk hidup untuk berkehendak; kehendak; niat”. Pada akhirnya, melalui sosok Vidya, penulis mengajak pembaca untuk memaknai hidup, bagaimana menjadi manusia seutuhnya dalam ketenangan jiwa. Membawanya untuk merenung dan berkaca bahwa : mungkin rasa syukur tak terkait dengan kegembiraan. Mungkin bersyukur berarti mengakui yang kita miliki apa adanya. Menghargai kemenangan kecil. Mengagumi perjuangan untuk menjadi manusia.

Mungkin kita mensyukuri hal-hal yang kita tahu. Mungkin kita mensyukuri hal-hal yang takkan kita tahu. Pada akhirnya, fakta bahwa kita punya keberanian untuk berdiri, sudah cukup untuk dirayakan. Rasa bersyukur, terima kasih apa pun kata yang dipakai semua artinya sama. Bahagia. Kita seharusnya bahagia mensyukuri teman, dan keluarga. Mungkin sebagai manusia, kadang lebih baik untuk tidak tahu. Karena dalam ketidaktahuan, ada rasa takut, tetapi juga ada harapan. Harapan bahwa seiring waktu, kebahagiaan itu akan berkembang.

Continue Reading

Penulis: Ivan S. TjahjaTahun terbit: 2021Penerbit: Yayasan Bukit ZionJumlah halaman: 161 halamanISBN: 978-623-97076-0-6 Sebuah peristiwa sejarah akan semakin menarik untuk dibahas jika diperkaya melalui beragam sudut pandang. Semakin banyak literatur…

Judul : Bumi ManusiaPenulis: Pramoedya Ananta ToerTebal buku: 552 halaman Penerbit : Lentera Dipantara, JakartaTahun terbit: 2019 Minke. “Orang memanggil aku: Minke. Namaku sendiri… Sementara ini tak perlu kusebutkan. Bukan…

Judul Buku: Counterfeit Gods (Allah-Allah Palsu)Penulis: Timothy KellerTebal Buku: 204 HalamanPenerbit: Literatur Perkantas Jawa TimurTahun Terbit: 2018 Sering sekali kita menaruh standar kebahagian dalam hidup lewat pencapaian dalam pekerjaan, cinta,…

Penulis : Sir Arthur Conan DoylePenerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama (2012)Tebal Buku : 300 halaman Dimulai dengan sebuah pesan yang sampai ke pada Sherlock dalam bentuk sebuah kode, tanpa…

Penulis: Stephanie Meyer Tebal buku: 1016 hlm Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Tahun terbit: 2020 ‘Namun meskipun pikiran-pikirannya tampak sangat jelas di matanya yang aneh –aneh akrena kedalamannya- aku…

Karya: Herry Gendut JanartoPenerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Gudeg.Malioboro.Angkringan.Itu tiga kata teratas saat ditanya apa yang diingat tentang Yogya. Ketiga hal ini juga jelas terpampang dalam lembar-lembar novel pertama Herry…