Dedikasi Tinggi Demi Buah Hati

Buku Petualangan Kami dan Mama terinspirasi cerita dari pengalaman dalam kehidupan penulisnya Made Arini Hanindharputri yang akrab disapa dengan Ririen. Ibu dua anak ini terkesan dengan salah satu pengalaman bercerita bersama kedua putra dan putrinya jika sedang merasa bosan di rumah. Mereka ingin mendengarkan cerita yang lain dari biasanya karena sudah terlalu sering mendengar cerita yang monoton alurnya.

Keduanya juga memiliki karakter kesukaan yang berbeda, yang satu senang dinosaurus dan lainnya Ultraman yang mewakili tokoh superhero. Di sisi lain, anak-anak Ririen senang dengan karakter yang digambar ibunya. Lantas cerita karangan imajinatif sang ibu coba disampaikan kepada dua buah hatinya. Kedua tokoh kesenangan anak-anaknya inilah yang kemudian digabungkan serta dikembangkan menjadi cerita dalam buku Petualangan Kami dan Mama.

Made Arini Hanindharputri yang akrab disapa dengan Ririen

Ririen memilih membuat buku cerita anak-anak karena menyadari ciri khas gambar karakternya memang lebih cocok untuk ilustrasi gambar anak-anak, telah sejak lama ia jatuh cinta pada dunia doodle. Kecintaannya pada doodle disebabkan kebebasan berkreasi tanpa batasan-batasan tertentu dibandingkan aliran realis misalnya. Sejak kecil Ririen senang membaca komik, inilah yang menginspirasinya dalam menggambar. Komik yang paling disenangi Ririen adalah komik karya Disney karena sifatnya yang colorful.

Kesenangannya membaca komik pun tak berhenti hingga sekarang. Ia lebih senang membaca buku komik daripada komik online yang bisa diakses di dunia maya. “ Membaca bagi saya memang harus memegang fisik buku, mencium aroma halaman buku, hingga merasakan tekstur atau kemasan buku,” ia bercerita syarat menikmati komik yang selama ini dilakukannya.

“Membaca itu adalah kegiatan yang paling menyenangkan di dunia, dengan membaca saya jadi punya banyak hal imajinatif dan dapat banyak masukan,” kata Ririen. “Semua hal bisa kita dapatkan dari membaca baik itu pengetahuan, pengalaman, hingga hal-hal yang sifatnya fiksi atau imajinasi. Tidak perlu kemana-mana, tapi kita dapat ilmu dari buku.”

Berproses Menulis

Proses pengembangan ide buku diawali Ririen dengan membuat naskah pada masing-masing halaman buku–yang kemudian diterbitkan oleh STD Bali Press–untuk mengetahui perbedaan isi tiap halamannya. Kemudian ia mencoba mencari referensi sebagaimana yang pernah diceritakan kedua anaknya dan dikembangkan sesuai dengan gambaran cerita keseluruhan buku yang telah dirancang. Pengembangan yang dilakukan perempuan berzodiak sagitarius ini misalnya menceritakan karakter dinosaurus dan superhero yang berteman, juga menciptakan awal konflik dengan memasukan karakter mama yang diculik ke dalam cerita.

Setelah pengembangan cerita selesai, Ririen kemudian mulai mengerjakan sketch karakter-karakter yang ada di dalam cerita buku. “Sketch tersebut termasuk melengkapinya dengan pakaian sehari-hari di rumah,” papar Ririen tentang proses pembuatan sketch. Begitu karakter selesai digambar, lantas ia beranjak menggambar latar cerita (background). Baru kemudian ia mulai pewarnaan secara digital. Semua proses tersebut dikerjakan secara mandiri oleh Ririen selama dua minggu. Ia sangat bersemangat untuk segera menyelesaikan buku, dan memberikan kepada kedua buah hatinya.  Pada saat itu ia tak berpikir untuk menjadikan karyanya sebagai buku yang layak jual dan mendatangkan profit. “Saya sering ketawa-ketawa sendiri waktu kerjakan buku, karena kan karakternya itu saya sendiri dan anak-anak,” ujarnya berbagi pengalaman unik selama menulis buku.

Kendala utama selama berproses menulis adalah waktu. Bagi Ririen, ia harus pintar-pintar mengatur waktu antara bekerja sebagai dosen dengan mengurus anak sepulang kerja. Oleh karenanya, tak jarang Ririen mengerjakan bukunya sambil melepas lelah dalam posisi rebahan. Ia juga sering harus menunggu buah hatinya tidur dulu untuk mulai mengerjakan karyanya. “Mungkin kalau ada waktu seharian untuk mengerjakan, saya bisa buat gambar yang lebih bagus secara detail. Mungkin juga bisa langsung empat buku sekaligus dalam dua minggu,” selorohnya.

“Pengen banget cerita ini jadi, supaya anak-anak saya bisa baca bukunya. Ini lho karya mama tentang kalian,” curhat perempuan yang kini tinggal di Kota Denpasar, Bali. Ia ingin melalui buku tersebut anak-anaknya bisa fokus membaca karena ada perasaan bangga mereka menjadi bagian dari cerita yang ada di dalamnya. Dengan demikian mereka tidak tergantung  atau bahkan kecanduan bermain gawai yang dimilikinya. “Misi khususnya supaya mereka mau baca buku daripada bermain gawai,” tegasnya.

Memotivasi Sesama Orang Tua dan Anak

Meaningful dan luar biasa banget untuk saya karena bisa menulis buku tentang apa yang disukai anak saya, dan berguna tidak hanya untuk keluarga saya tapi juga untuk orang lain,” sebut Ririen tentang arti keberhasilan menyelesaikan karyanya.

Buku Petualangan Kami dan Mama yang di-launching pada 14 Februari 2018 lalu, coba menyampaikan pesan untuk membangun kembali kedekatan antara orang tua dan anak melalui kebiasaan mendongeng atau membaca buku cerita sebelum tidur. Ririen berpendapat bahkan orang tua sebenarnya bisa membuat cerita sendiri untuk disampaikan seperti halnya yang dilakukan Ririen. “Saya menumbuhkan jiwa imajinatif orang tuanya sih sebetulnya. Walaupun itu mengarang, tapi sebenarnya anak-anak pasti suka karena waktu itu yang lebih penting buat anak,” katanya.

Sedangkan untuk pembaca dari kalangan anak-anak ia ingin supaya mereka mau membaca buku. Di dalam buku karyanya dengan 30 halaman tersebut, ia sengaja tidak terlalu banyak menuliskan teks sehingga ilustrasi gambar karakter lebih dominan. Ini dilakukannya untuk membebaskan imajinasi anak-anak yang membaca supaya tidak dibatasi oleh teks yang terlalu banyak.

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *