Keping Natal dalam Kisah

“Jingle Bells, Mariah Carey, Michael Buble, Santa Claus, Palungan, Pohon Cemara.” Meriah.

Itulah sekilas menggambarkan suasana selama Desember berlangsung. Semua terangkum dalam momen Natal. Datang hanya setahun sekali, setiap orang tak mau ketinggalan ambil bagian di bulan itu.

Natal bisa punya ceritanya masing-masing bagi tiap insan. Jika Kawan melempar ingatan ke belakang, Natal bisa tampil dari beragam perspektif, mulai dari petualangan seperti Home Alone, sampai novel thriller Hercule Poirot’s Christmas karya Agatha Christie, bisa Kawan nikmati.

Mencoba untuk belajar menceritakan imajinasi dan cerita, adik-adik remaja Gereja Kristen Indonesia Pondok Tjandra Indah, Sidoarjo, belajar selama dua belas pertemuan. Mereka memupuk keinginan dan keterampilan menulis. Kemudian, di akhir sesi, mereka membentuk tulisan pendek berbentuk buku. Ceritanya bertema Natal. Bukunya berjudul Keping Natal dalam Kisah, diterbitkan oleh CV. Nulisbuku Jendela Dunia.

Mulai dari cerita tentang detektif, hingga pentingnya rasa bersyukur walau dalam kepiluan, bisa menghibur, sekaligus memberikan makna spiritual bagi siapapun yang membaca buku yang disunting oleh Fanny Lesmana ini. Salah satu kisah yang menarik bisa Kawan baca berjudul Natal yang Indah, karya Freya. Kisah ini memberikan Kawan makna untuk terus bersyukur dan tak berlarut-larut dalam kesedihan. KehadiranNya membawa kabar sukacita. Dialah penyembuh luka hati yang kita rasakan.

Punya ketebalan 221 halaman, buku ini pun tak hanya menggunakan Bahasa Indonesia. Ada juga kisah yang berbahasa Inggris, seperti milik Eirene dan Theona Salma, berjudul Hated Chrismas dan Christmas Reunion. Setiap cerita dalam buku yang terbit pada 2022 ini memiliki gaya penulisan yang menarik untuk Kawan rasakan. Ibaratnya, seperti makan pecal, rujak, dan gado-gado. Semuanya berbumbu kacang, tapi punya cita rasa yang berbeda-beda. Setiap kisah juga terus memberikan inspirasi pada akhir ceritanya.

Dari sisi desain sampul yang didesain oleh Jessica Nathania, buku ini punya warna yang gelap, tetapi berpadu dengan ilustrasi perempuan yang membawa lampu pelita di tangannya. Ada pula beberapa elemen seperti serpihan yang menghiasi beberapa sisinya. Perpaduan-perpaduan itu memberikan pesan sekilas atas gambaran isi buku, yaitu Natal sebagai penerang dunia, dan buku ini menjadi serpihan cerita di dalamnya.

“Harapan pernah ada, harapan masih ada, dan harapan akan selalu ada.” Laura Setiawan, dalam kisahnya yang berjudul The Gone Man.

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *