Karya: Herry Gendut Janarto
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Gudeg.
Malioboro.
Angkringan.
Itu tiga kata teratas saat ditanya apa yang diingat tentang Yogya.

Ketiga hal ini juga jelas terpampang dalam lembar-lembar novel pertama Herry Gendut Janarto (HGJ) yang dibesutnya pada masa pandemi Covid-19 ini. Bagi mereka yang tinggal di Yogya, pernah tinggal di Yogya, memiliki kenangan di Yogya, atau apa pun yang bersentuhan dengan Yogya, pasti cukup akrab dengan nama-nama yang disebutkan. Pantaslah kiranya buku ini diberi judul Yogya Yogya.

Ada dua poin menarik yang ingin digagas oleh HGJ dalam buku ini. Pertama, persoalan multikulturalisme. Tak beda jauh dengan kebanyakan wilayah di Indonesia, perbedaan budaya acap muncul secara perlahan, namun juga bisa muncul secara tiba-tiba. Yogyakarta yang dikenal sebagai kota adem (dingin), pernah memunculkan persoalan yang bersifat diskriminatif. Mungkin saja penulis ingin mengajak pembaca untuk kembali mendinginkan permasalahan yang sepatutnya tidak perlu menjadi permasalahan karena kondisi bangsa Indonesia yang majemuk. Hal ini diwujudkannya dalam lakon pernikahan beda suku bangsa.

Tokoh utama yang disebut sejak halaman pertama hingga menutup lembar akhir novel ini disapa Gayuh, seorang laki-laki keturunan Tionghoa yang lahir, besar, menemukan cinta, sekaligus terluka di Yogya. Meski demikian, ia tetap mencintai Yogya dengan caranya sendiri. Ia tak ingin terus terluka, namun ia juga tak ingin terlepas dari Yogya.

Konteks multikultural ini juga ditangkap oleh ilustrator sampul buku, yakni Vincentia Iena Cahyaningtyas. Sembari menempatkan ikon Yogya, Iena tak lupa menyematkan gambar anak laki-laki yang mengenakan busana Cheongsam.

Kedua, persoalan wisata budaya. Karena kental dengan budaya Jawalah, maka Yogya menjadi salah satu jujugan bagi banyak wisatawan. Konten inilah yang ingin digagas oleh penulis untuk tetap mengajak pembaca lebih mengenali Yogya tidak sekadar pada tiga kata di atas. Penulis ingin membawa pembaca untuk memandang Yogya dalam matra yang lebih luas. Masih banyak tempat lain yang elok dipandang, juga banyak tempat untuk menggoyang lidah.

Beberapa bagian merupakan kisah nyata yang dialami oleh penulis. Walau ada upaya untuk menyamarkan namun pilihan kata serta rangkaian kalimat yang dipilih penulis tak serta merta dapat menyembunyikan keterlibatan penulis secara personal. Toh, itu tidak mengganggu rentetan kisah yang dijalin di dalamnya.

Ringan untuk menyegarkan ingatan. (fnny)

Continue Reading

Penulis             : Remy SyladoPenerbit          : Kompas Gramedia, 2010Tebal Buku      : 559 halaman “Namaku Mata Hari.”Dia menunjukkan wajah riang, terkesima dan beramah-ramah dengan dialog encer, menyebabkan hatiku terhibur.“Itu nama baptismu…